Friday, February 14, 2014

Hutan Indonesia: SOS


Kita patut berbangga bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan itu bukan sekedar bualan belaka. Dari yang berwarna gelap hingga terang, melata hingga bisa terbang; sumber daya alam yang berlimpah bisa ditemukan di tiap sudut kepulauannya dan tersebar luas dari Sabang sampai Merauke, termasuk salah satu diantaranya yang paling besar adalah hutan.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah atas, saya hanya tahu Indonesia hutan Indonesia dielu-elukan sebagai paru-paru dunia. Saya dibutakan dengan menghafal jenis hutan dan nama flora dan fauna yang ada di dalamnya tanpa tahu fakta bahwa mereka hampir atau bahkan sudah punah. Saya sempat mengira Kalimantan seluruh daratannya ditumbuhi hutan, hingga akhirnya definisi saya tentang Kalimantan dipatahkan oleh pemberitaan deforestasi yang marak disuarakan media masa. Kampanye perlindungan hutan yang saya lihat dan dengar pun menarik perhatian, sekaligus membuat saya merenung: apabila Indonesia masih sangat hijau, mengapa orang-orang sibuk menyuarakan hutan? Apa yang sebenarnya terjadi?

Lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia sepenuhnya binasa. Penelitian mencatat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 1,8 juta hektare pertahun (setara dengan dua persen dari total hutan Indonesia), yang sebagian besar disumbang oleh penebangan liar (illegal logging). Illegal logging adalah kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Bermula dari ekspansi besar-besaran di sektor produksi kayu lapis dan pulp (bubur kertas) dan kertas, permintaan terhadap bahan baku kayu ikut mengalami perkembangan yang sangat pesat. Demi memenuhi permintaan pasar yang melebihi kemampuan pasokan legal dan meraup lebih banyak profit, segala cara dihalalkan termasuk membabat hutan secara illegal. Namun, kini perusahaan-perusahaan raksasa penyuplai pulp dan minyak kelapa sawit seakan sedang gandrung konversi lahan gambut. Cara yang sangat tidak asri ini dilakukan dengan menebang pohon yang nilai jualnya tinggi, menyingkirkan kayu dengan membuat jaringan kanal, lalu mengeringkan gambut agar keadaannya sesuai untuk mengembangkan kelapa sawit atau pohon akasia. Kebakaran hutan yang disengaja juga salah satu cara konversi lahan gambut, bertujuan mengurangi kadar keasaman sebelum kelapa sawit ditanam.

Berkat eksploitasi hutan yang membabi buta, Indonesia jadi dihujani banyak predikat, diantaranya adalah negara dengan laju deforestasi tercepat di dunia. Fakta ini berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina. Selain itu, prestasi yang sempat menggemparkan adalah masuknya Indonesia ke dalam daftar Guiness World of Record sebagai penghancur hutan tercepat di dunia alias The Fastest Forest Destroyer.

Penelitian Departemen Kehutanan menyatakan bahwa negara merugi Rp. 83 milyar perhari akibat pembalakan liar. Flora dan fauna juga tidak ketinggalan terkena imbasnya, contohnya Orang Utan.

Apabila bumi adalah badan dan hutan menjadi paru-parunya, bumi sekarang sakit karena hutannya bolong. Layaknya manusia yang paru-parunya bermasalah, bumi mulai menunjukan gejala-gejala tubuh yang sakit seperti perubahan iklim yang drastis dan bencana alam. Dan itu hanyalah dua dari sekian banyak hal buruk yang akan terjadi apabila kita biarkan hal ini berlanjut.

Apa yang sudah terlanjur hilang tidak bisa seperti semula kembali, namun tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Sebenarnya, alasan utama semua kerusakan hutan dunia terjadi adalah kurangnya kesadaran manusia akan pentingnya peranan hutan itu sendiri. Tak kenal maka tak sayang. Mulailah mengenal arti hutan lebih dalam. Dari situ akan timbul rasa ingin menjaga dan memelihara.

Saya tidak sanggup menanam seribu pohon di Borneo tapi saya yakin aksi kecil jika dilakukan bersama-sama akan membawa perubahan yang sangat besar. Sejak tahu bahwa hutan kita butuh atensi, saya mulai membiasakan diri untuk membawa botol minum saya sendiri ketimbang membeli air mineral botol plastik. Saya juga mulai menolak pemberian kantong plastik dari mini market atau supermarket dan sebagai gantinya menaruh semua belanjaan di tas. Pun menulis dan mencetak di halaman bolak-balik serta memilih sapu tangan daripada tisu. Walau trend kekinian adalah mahasiswa berkendara, saya tetap teguh pada pendirian berjalan kaki ke kampus dan memaksimalkan kendaraan umum (selain tidak menghasilkan emisi, saya juga jadi tetap bugar). Menggunakan listrik sesuai kebutuhan juga saya yakini dapat berkontribusi untuk kebaikan hutan. Dan yang terakhir, unjuk rasa dengan berbagai cara juga menunjukan bahwa kita peduli. Berkat fakta-fakta yang dibeberkan Greenpeace mengenai perusahaan-perusahaan yang bermain kotor, saya berdemo dengan cara lebih selektif dalam berbelanja. Agar lebih terdengar, saya juga menunjukan suara saya dengan mendukung program Protect Paradise.

Yuk, lindungi hutan mulai dari sekarang! Kalau bukan kita, siapa lagi?



Thursday, January 23, 2014

608

Ditatapnya kedua bola mata itu tajam. Dalam. Ada sesuatu dibalik sosok ini yang menarik dirinya jauh ke inti bumi. Ia tahu ia sedang menginjakan kakinya di atas magma. Ia merasa panas merayap di sela-sela jari kakinya. Yang dia tahu dia hanya ingin luluh; atau mungkin sebagian darinya sudah luluh saat itu juga.

Semua benda di sekitarnya perlahan bergerak mundur dan menjauh, meninggalkan ia dan sosok ini sendiri. Tidak ada kupu-kupu mengitari pun pelangi menghiasi ruangan. Tidak satupun yang ia rasakan saat itu klise. Semua tampak jujur dan indah. Mungkin tidak semua. Mungkin cuma dia.

Saat pertama nafas mereka bersentuhan, ia tahu ia hanya berada sejengkal dari surga. Semua pahit yang pernah ia telan kini menjadi madu yang mengalir di pembuluh darahnya. Duri yang dulu menancap di lubuk hatinya, luka yang membenam, dendam yang menghujam perlahan melepaskan diri. Semua yang hitam kalah. Pun abu-abu. Hanya putih yang kini menang, satu-satunya warna yang kini hanya ingin ia kenal dan kenang.

Ditatapnya dia sekali lagi. Dia indah, terlalu indah untuk dirinya. Ia lalu berkata pada dirinya sendiri, "Dia bukti malaikat adalah fakta sekaligus fiktif belaka."

Separuh dia bermandikan cahaya, separuh lagi bersembunyi di baliknya. Ia lebih memilih lebur dalam gelap, mendengar sosok dan melihat keluh dari dia dalam pekat. Menikmati dia terbit dan tenggelam. Ada lalu tiada. Ada, lalu tiada. Ya, ia lebih memilih lebur dalam gelap dan menggenap.

Lagi, ditatapnya kedua bola mata itu. Sempat terpikir olehnya menjentikan jari di udara untuk membunuh waktu. Nihil, yang ia lakukan nihil. Di tengah-tengah keputusasaannya ia teringat satu nama. Nama yang selama ini tertidur dan terlupakan. Nama yang saat ini sangat ingin ia serukan. Yang tak pernah terlontarkan. Tuhan.

Ditatapnya kedua bola mata itu kembali, kini lembut separuh sayup. Dia masih indah. Terlalu indah untuk ia kagumi dengan kelopak mata tertutup.
Dan saat itu juga ia tahu ia ingin jatuh lebih jauh lagi.

Thursday, October 31, 2013

Intro: How It Begun

안녕하세요!

It's been a while since I last wrote on Blogger. Things were going hectic and I haven't got a chance to write another post but here I am, starting to write again in the corner of my lovely space, in Korea. And I mean, Korea!

I've been here for 2 months -- time flies really fast here. It started from an offer of exchange programme for a semester at Chonnam National Univeristy by my uni. They sent 3 students from my uni to Chonnam with a scholarship for each candidate and I was one of the candidates.

I sometimes think I don't deserve this. Every time I walk then I look at the sky, wondering, "Man, the life I'm living now is just too much I feel grateful and empty at the same time" 

Anyhow, after a shitty flight, I finally landed at Incheon. It was sunny -- took that as a warm welcome. When I first got here, I looked at every signs written in strange character. I never learned Korean language before so I got little bit shocked. Thanks to Korean language class, now I can write my name in Hangul.



It took three and a half hour for me and Fellin to go to Gwangju from Incheon by bus.




Fellin, another scholar from my uni








Amy Winehouse - Tears Dry on Their Own

Friday, October 4, 2013

Rintik Risau

Satu demi satu awan berkumpul. Langit kini gelap, kini hitam pekat.
Bergemuruh langit karena sesak. Bergetar ia menggelegar. Berbahasa langit melalui kilatan cahaya, membelah putih dan hitam tidak sama rata.

Langit gundah, langit resah.
Langit luruh lalu isinya tumpah ruah.

Deras.
Deras.
Deras.







Deras.
Deras.
Deras.

Membasahi yang kering karena rindu.
Mengguyur yang tandus dan patah hati.
Menghapus yang pernah ada; jejak yang terhenti.

Saturday, June 15, 2013

July 14th

Yesterday, I went to my friend's engagement party. Like a real engagement party. So, standing my friend with her fiancé. It was red and black all over the room. Their photos hanging everywhere. It was beautiful. They were beautiful last night.

Their guests filled the room. Songs were played acoustically in the corner, built up the mood.
I grabbed a glass of cocktail, enjoyed the atmosphere alone. Being alone in someone's engagement party wasn't that bad.

Everything in that room seemed so lovely and perfect. I closed my eyes and suddenly questions popping in my head. Rapidly.

When will I get married? Can somebody define me the word "marry"? Will two wedding rings make it mortal? Why can I still find divorce couples or cheaters? Is married a guarantee? Will it last forever?

I couldn't picture myself in five years later, too scary. The thought of still being single, still not having any ring on my finger, the thought of not marrying someone I love, terrifying.

Then, I remembered we had a fight. Tiring fight. I honestly hate arguing with you. I took my key and drove. I wanted to go home soon. To you.

Lights were so blurry last night.
John Mayer's voice filled the empty air, long road to get home.

And the thought of not marrying you, terrifying. 


Sunday, April 21, 2013

Dan masih dirimu yang membuat dinding ini bergema
semuanya masih seperti semula
masih dirimu dan langit rona senja
hanya aku, hanya aku yang berbeda
aku kehabisan cara membuatmu bahagia

Monday, February 18, 2013

Memeluk Majemuk

Andai semua bisa membaca cukup dengan kedipan mata.

Andai resah ini bersuara dan cemas ini dapat bergumam, aku tidak perlu mencari bahasa yang pas untuk berbicara denganmu.
Andai angin saja cukup membisikkan yang sedari tadi bergema di dinding hati. Atau terukir jawaban atas semua yang membelenggu kita di langit. Bisakah kamu temukan jawaban dari "apa," "kenapa," dan "mengapa" kita yang mungkin saja mengambang di genangan air?

Andai ombak dapat menenggelamkanmu dalam pemahamanku. Sentuhlah dasar laut maka kamu temukan serpihan aku terdampar, menunggu untuk menjadi apung di permukaan.

Andai kamu tahu aku lelah mencari bahasa yang pas untuk kita berbagi lagi. Semua perihal yang menyangkut bahasa, isyarat, dan pengertian sangat memuakkan. Oh, andai kamu tahu aku selalu gagal dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Menyerahlah pada keadaan bahwa kita sama-sama membutuhkan. Aku sirna tanpamu dan begitu adanya kamu.

Andai kamu, banyak kamu tahu.

Lalu di hadapan cermin besar ini, di hadapannya, ia memejamkan mata tanda setuju bahwa mereka kembali melebur dalam satu raga; bersama.